Detail Cantuman
Advanced SearchBUKU PENGAYAAN
Kancil balapan dengan keong
Kancil berlari sekuat tenaga menghindari kejaran Harimau yang telah sekian kali diperdayanya. Sampailah ia di tepi sebuah telaga berair jernih. Karena tenggorokannya terasa haus maka ia minum sepuasnya. "Hem, segar rasanya badanku, " gumam si Kancil. "Tapi aku harus dapat tempat yang aman untuk beristirahat. Aku yakin Harimau pasti masih penasaran dan terus mengejarku. Kancil berteduh di bawah pohon yang rindang. Dari tempat itu ia bisa mengawasi sekeliling telaga. Jika sewaktu-waktu Harimau datang pastilah ia akan mengetahuinya lebih dahulu.
Tak lama kemudian terdengar suara auman Harimau. Kancil jadi resah. Suara auman Harimau masih terdengar jauh. Tapi tak lama pasti datang menjumpainya. Dalam situasi panik itu tiba-tiba Kancil melihat sarang lebah tak jauh dari tempatnya beristirahat. "Nah, sarang itu akan menyelamatkanku." Dugaan Kancil benar, hanya beberapa saat kemudian muncullah Harimau dari semak belukar. "Sekarang kau tidak bisa lari kemana-mana CIl!" Mau tak mau kau harus jadi santapanku!" Boleh, boleh saja...!" sahut kancil. "Kenapa kau duduk setenang itu. Kau tidak takut padaku?" tanya Harimau, "Jangan berisik!" kata Kancil, "Nanti aku dimurkai oleh Nabi Sulaiman. Aku sedang menjalankan tugas!" "Tugas apaan Cil?" tanya Harimau. "Lihat! Aku sedang menjaga Gong Surgawi." kata Kancil. "Gong itu bertuah, siapa yang menabuh (memukul) gong itu maka apa yang dikatakan akan dipatuhi oleh seluruh binatang di dunia ini. Itulah sebabnya Nabi Sulaiman bisa menguasai seluruh binatang di dunia ini!" "Wah hebat benar Tuah gong itu!" sahut Harimau. "Memang hebat! Untuk itulah aku diperintah oleh Nabi Sulaiman menungguinya!" "Cil! Sebagai Raja Rimba tentunya aku pantas menabuh gong itu!" tukas Harimau. "Jangan! Nanti aku kena marah Nabi Sulaiman!" kancil pura-pura keberatan. "Alaaah! Nggak ada yang tahu, biar kutabuh sekali saja!" kata Harimau.
"Tidak boleh! Tidak boleh!" kancil mencegah. "Kalau begitu bersiaplah! Aku akan segera menerkammu. Kumakan kau hidup-hidup!" "Jangan begitu kawan!" kata Kancil agak ketakutan. "Mau apa lagi kau?" sergah harimau. "Begini...kalau mau menabuh gong itu ada syaratnya!" Kancil menjelaskan. "Syarat? Apa syaratnya cepat katakan!"
"Demi keamaan kita bersama. Kau baru boleh memukul gong itu jika aku sudah lari menjauh dari tempat ini. Jika nanti kau ditegur oleh Nabi Sulaiman, maka katakan saja bahwa sebelum menabuh gong itu kau ingin minta ijin tapi tidak ada yang menjaga, maka kau tak akan dimarahi Nabi Sulaiman." "Kalau begitu cepat tinggalkan tempat ini Cil!" kata harimau tak sabar lagi Harimau benar-benar ingin tahu seperti apa bunyi gaung gong ajaib itu.
Begitu Kancil sudah tak terlihat lagi batang hidungnya, Harimau mengambil kayu dan menabuh gong itu keras-keras. Buk! Buk! Buk! Gong ajaib itu tidak menggema, melainkan keluarlah ratusan tawon dari dalamnya. Tawon-tawon ganas itu segera menyerbu Harimau dengan sengatannya yang panas luar biasa!
Harimau benar-benar merasa kesakitan. Ia meraung sekeras-kerasnya. Namun tawon-tawon itu masih saja menyengatnya berkali-kai. "Kancil kurang ajarrrr! Kau telah menipuku lagiiii!" Dalam situasi panik Harimau masih ingat di tempat itu ada telaga besar. Maka ia berlari ke arah telaga. Tawon-tawon itu masih mengejarnya dan menyengatnya tanpa kenal ampun. Setelah menceburkan diri ke air telaga barulah tawon-tawon itu pergi. Bagian kepala Harimau tampak benjol di sana-sini karena sengatan lebah. "Awas kau Kancil. Tunggu pembalasan dendamku!".
Ketersediaan
| H173460 | 899.221 RAH k | My Library | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
Dongeng & Mewarnai
|
|---|---|
| No. Panggil |
899.221 RAH k
|
| Penerbit | Serba Jaya : Surabaya., |
| Deskripsi Fisik |
24 hlm.: ilus.; 21 cm.
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
899.221
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
MB. Rahimsyah. AR
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






