Image of Kancil dan gong ajaib

BUKU PENGAYAAN

Kancil dan gong ajaib



Kancil berlari kencang. Ia baru saja menipu macan yang terpaksa harus bertarung dengan ular. Kini ia sudah jauh meninggalkan hutan tempat si macan akan menjadikannya sebagai santapan.
Kancil sudah merasa aman dari hutan wilayah macan. Setelah sekian lama berlari kencang iapun kelelahan. Maka ia beristirahat di bawah rindangnya pohon besar.
Alam pedesaan yagng subur. Puluhan hektar sawah membentang hijau. Di tengah-tengah sawah yang menyejukkan mata, terdapat sebuah parit yang membelah cukup panjang.
Di parit itu tinggallah sekelompok Keong yang hidup rukun penuh kedamaian. Antara satu dengan yang lain saling tolong-menolong.
Para keong itu bahu-membahu tidak pandang bulu. Yang tua menyayangi yang muda dan yang muda pun selalu menghormati yang lebih tua.
Setiap pagi mereka pergi untuk mencari makan. Ada di antara mereka yang berjalan menyusuri sepanjang parit hingga sampai ke ujung. Namun ada pula yang menyebar di sawah-sawah yang ada di kanan dan kiri parit. Ketika sore tiba, mereka baru pulang ke rumahnya masing-masing.
Pada suatu hari, mereka didatangi Si Kancil. "Selamat pagi Keong? Bagaimana kabarmu?" sapa si Kancil dengan wajah berseri-seri. "Baik-baik saja!" jawab Keong. "Bagaimana dengan dirimu?"
"Seperti yang kamu lihat sendiri, aku tidak kurang apapun!" "Cil kenapa kamu disebut binatang paling cerdik?" "Karena aku memang pintar!" kata Kancil dengan sombong. "Oh begitu, seberapa pintarnya otakmu?" tanya Keong. "Lho? Kok tanyanya begitu? Kamu meledak ya?" "Ah enggak?" "Sudahlah Keong, aku memang dikenal sebagai binatang paling pintar dan kau dikenal sebagai binatang paling malas karena jalanmu yang lambat itu!" tukas Kancil. "Cil, walau jalanku lambat tapi aku bukan pemalas. Kalau cuma adu lari cepat denganmu aku jamin kau pasti kalah."
"Lho? Kau menantangku adu lari cepat?" "Hanya untuk membuktikan bahwa bukan hanya kau yang berlari cepat!" "Huahahahaaa...hahaaa....hahahahaha Keong...keong!" Kancil mengejek. "Kamu berani adu lari cepat Cil?" tanya Keong. "Wah! Baiklah mari kita berlomba lari cepat. Kapan dilaksanakan?" "Besok pagi!" jawab Keong dengan mantap. Si Kancil menjadi heran mendengar jawaban Keong yang mantap. "Baiklah besok pagi aku akan datang ke parit ini."
Setelah Kancil pergi, Keong mengumpulkan teman-temannya. Keong menemukan gagasan yang tepat untuk memberi pelajaran si Kancil agar tidak sombong. Dengan sifatnya yang suka tolong menolong akhirnya semua Keong bersepakat untuk menaklukkan si Kancil dalam perlombaan lari besok pagi. Pagi-pagi sekali semua Keong sudah berkumpul di tempat perlombaan. Satu persatu Keong-Keong tersebut mulai berjejer di sepanjang tepian parit. Mereka semua masuk ke dalam air, kecuali satu Keong yang kemarin bertemu dengan si Kancil. Tak lama kemudian si Kancil pun datang pula di tempat tersebut.
Setelah aba-aba dibunyikan, segera keduanya memulai perlombaan. Si Kancil langsung berlari di tengah parit. Sementara itu, Keong pun masuk ke dalam air. Si Kancil berlari cukup cepat. Dalam hatinya, ia sudah yakin bahwa dirinya yang akan jadi pemenang.
Setelah beberapa saat berlari Kancil berteriak, "Keooong...! Keooong! Sampai di manakah kamu sekarang?" teriak si Kancil untuk mengetahui posisi Keong. "Kuk...! Hai CIl, mengapa kamu baru sampai di situ? Aku sudah berada di depanmu." Si Kancil terkejut melihat Keong muncul berada di depannya. Ia tak menyangka kalau Keong mampu mendahului kecepatannya. Si Kancil pun berlari lagi.
Kali ini, ia berlari lebih cepat daripada sebelumnya. Berulang kali si Kancil memanggil Keong untuk mengetahui posisinya, tapi saat itu pula Keong selalu berada di depannya. Semua tenaga sudah dikerahkan, tapi tetap saja Keong selalu berada di depannya.
Kancil tidak menyadari bahwa di tepian dalam parit itu sudah ada ribuan Keong-Keong yang berjajar sampai di garis finish. Sehingga setiap kali dia memanggil Keong untuk mengetahui posisinya, saat itu pula yang muncul dan menjawab adalah Keong yang berada di depannya.
Jadi Keong yang paling awal sebenarnya tetap saja masih di belakang, di garis start. Namun tidak diketahui oleh si Kancil hingga selesai perlombaan. Karena sering menoleh ke belakang Kancil kurang waspada bahwa di ujung parit ada jurang. Ia tercebur ke dalam jurang yang mirip sumur cukup dalam.


Ketersediaan

H173461899.221 RAH kMy LibraryTersedia

Informasi Detil

Judul Seri
Dongeng & Mewarnai
No. Panggil
899.221 RAH k
Penerbit Serba Jaya : Surabaya.,
Deskripsi Fisik
24 hlm.: ilus.; 21 cm.
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
899.221
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this